Seorang anak petani yang bernama agung yang sifatnya peramah dan suka membantu di tempat tinggalnya, meskipun hidupnya pun serba kekurangan. Hari itu agung hanya membawa uang saku 5000 rupiah kemudian dilihatnya seorang nenek-nenek yang sudah sangat tua berjualan daun singkong kemudian agung pun tidak tega melihat nenek-nenek itu kemudian dihampiri oleh agung dan agung pun bertanya “nek daun singkong ini berapa harganya?” kemudian nenek itupun langsung menjawab pertanyaan agung “ satu ikat seribu saja nak” kemudian agung berkata lagi “ ini nek agung hanya ada unag lima ribu silahkan ambil ya nek meskipun tidak seberapa “ nenek itupun mengambil uangnya dan mengucapkan terimakasih kepada agung kemudian agung pamit untuk malanjutkan perjelanan ke sekolah meskipun hari itu agung tidak lagi membawa uang saku namun agung ikhlas untuk memberikan uangnya tersebut kepada nenek itu dan nenek itupun melanjutkan untuk mengelilingkan jualanya. Tempat tinggal agung memang jauh dari perkotaan namun agung bangga menjadi anak desa karena suasana yang sejuk dan asri dengan terbentangnya pesawahan yang indah, terdapat pula bukit yang namanya bukit cogong dan udara yang segar membuat orang perkotaan malah banyak yang berdatangan untuk berfoto-foto di desanya.
Agung merupakan anak tunggal namun bukan berarti agung ini anak yang manja agung mempunyai cita-cita yang sangat mulia yaitu ingin menjadi seorang abdi Negara agar suatu saat nantinya dia bisa mambanggakan dan mengangkat derajat orang tuanya dia juga mempunyai rasa percaya diri yang sangat kuat bahwa dia mampu menjadi seorang abdi negara. Sejak sd hingga SMA ketika di sekolahan dia selalu menjadi pemimpin upacara, selalu mengikuti kegiataan ekstrakulikuler yang berhubungan dengan kepemimpinan seperti paskribraka ,pramuka dan sebagainya . Sewaktu SMA nya pun dia pernah masuk dalam paskibraka kecamatan untuk menjadi anggota penaikan bendera namun untuk kabupaten dia tidak tersaring atau tidak lolos karena alasan berat badan yang kurang..
Sejak agung duduk dibangku sekolah menengah pun agung terkenal menjadi anak yang pekerja keras . sepulang sekolah agung langsung membantu ayahnya untuk menanam sayuran di sawah setelah membantu ayahnya agung kemudian mencari ikan di sungai dekat sawahnya kemudiaan jika pendapatan ikannya cukup banyak biasanya agung jual dan uangnya pun setengahnya diberikan kepada ibunya untuk membantu membeli sayuran atau untuk membeli beras sebagai santapan malam harinya kemudian yang setengahnya biasanya ia simpan untuk kebutuhan sekolahnya namun jika perolehaan ikannya sedikit biasanya dia masak sendiri untuk lauk makan.
Suatu hari ketika sepulang sekolah agung berjalan dengan salah satu seorang teman kemudian mereka sembari bercerita kemudian teman agung menanyai agung “gung setelah SMA ini kamu mau nerusin kemana dan apa si cita-cita kamu gung?” kemudiian agung sejenak diam untuk tarik nafas kemudian agung ini berkata “ aku ingin menjadi seorang TNI” teman yang menanyai pun cukup kaget dan tertawa kemuudian berkata “ uangmu banyak ya gung?” agung pun “hanya diam tanpa mengeluarkan kata kemudian merenungi apa yang dibicarakan barusan oleh temanya”.
Setelah sesampainya di rumah agung pun masih memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh temanya namun agung masih tetap berfikir optimis bahwa dia mampu dan dia bisa menggapai mimpi itu bukankah orang sering berkata “ bermimpilah setinggi langit”. Selain berkerja keras agung juga termasuk anak yang rajin beribadah menjalankan sholat lima waktu, sholat dhuha, dan sholat tahajud kemudian agung juga tidak lupa untuk terus berikhtiar untuk menggapai cita-citanya. Salah satunya dengan berolahraga setiap hari yaitu melakukan jogging pada sore hari, latihan kekuatan otot dan melakukan kegiatan sebagainya yang menyangkut cita-citanya.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan ketika itu kelulusan sekolah pun terjadi agung mulai memikirkan apakah harus langsung mengikuti tes atau membantu ayahnya terlebih dahulu karena agung sendiri tau cita-cita itu pun butuh uang dan itu tidaklah sedikit. Dan hari itu agung memutuskan untuk membantu ayahnya terlebih dahulu.
Pada pagi harinya saat agung dan ayahnya sedang menanam cabai di sawah tiba-tiba ayahnya mengeluhkan sakit pada dadanya kemudian agung pun menyuruh ayahnya untuk pulang terlebih dahulu memang sebelumnya ayah agung mempunyai gejala sakit jantung yang memang dibilang penyakit yang cukup berat dan cukup berbahaya. Ketika agung sedang asik melanjutkan pekerjaan ayahnya tiba-tiba tetangga agung menyurhnya untuk pulang fikiran agung pun kemana-mana dan akhirnya benar dirumahnya tampak ramai kemudian acung melihat ibunya menangis dan didekatinya ayahnya tersebut ternyata memang benar terjadi, apa yang menjadi firasat agung ketika menuju ke rumahnya dan ternyata ayahnya sudah tidak tidak bernafas lagi. Agung pun sangat menyesal kenapa tadi tidak mengantarkan ayahnya pulang terlebih dahulu dan mengantarkanya ke rumah sakit. “penyesalan memang datang diakhir” Nampak agung sangat menyesal dan menangis sekencang-kencangnya pada saat saat itu. Sebelum ayahnya meninggal ayahnya ini pernah berpesan kepada agung “nak ayah hanya ada sawah sepetak dan rumah yang kita tempati ini tolong jika suatu saat nanti ayah pergi duluan tolong jaga sawah tersebut ya nak, jangan sampai sawah itu terjual karena itu juga satu-satunya peninggalan dari nenekmu”.pesan dari ayahnya.
Sejak ayahnya meninggal mau tidak mau agung harus menjadi tulang punggung ibunya karena jika bukan dia siapa kali yang akan membantu ibunya. Sejak hari itu juga agung berfikir jika dia tidak ingin menjadi beban untuk ibunya dengan memikirkan cita-citanya itu. Pupuslah apa yang menjadi harapannya itu karena rasanya sekarang tidak mungkin apalagi ayahnya pun sudah tidak ada lagi.
Kesedihan masih sangat terasa namun agung harus tetap bersemangat untuk menjalani hidup demi ibunya. Hari pun telah berlalu semabari mengurus tanaman cabainya itu dia juga mencoba melamar pekerjaan kesana – kesini dan pada hari itu akhirnya lamaran kerjanya itupun diterima disalaah satu PT sawit yang pada saat itu gajinya memang belum seberapa pada awalnya namun lama-kelamaan gaji tersebut bisa mencapai tiga sampai lima juta perbulan. Agung mulai menjalani pekerjaan itu dan tidak lupa gajinya pun setengahya diberikan kepada ibunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Agung sangat bersyukur atas apa yang telah dia capai meskipun cita-citanya yang tidak bisa dicapai namun tuhan telah merencanakan dan memberikan gantinya dan agung juga tidak lupa untuk menyisihkan rezekinya itu untuk lingkungan tempat tinggalnya yang kurang mampu dan anak-anak yatim.
Pesan atau amanat dalam cerpen ini yaitu :
Manusia boleh berencana namun tuhanlah yang menentukanya tetaplah bersyukur meskipun terkadang kenyataanya memang tidak seperti yang diinginkan. Tuhan tau mana yang terbaik buat kita dan setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan.
Komentar
Posting Komentar